Tampilkan postingan dengan label Kearifan Tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kearifan Tradisional. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Mubes IV Dayak Kung Kemul

Mubes Kung Kemul Dalam Upaya Menghidupkan Kembali Kearifan Lokal dan Indentitas Serta Identitas Masyarakat Adat Dalam Semangat Persaudaraan

Menari Bersama di Peteah (Rumah Adat) Pada pembukaan Mubes Kung Kemul IV (18/07/2018)


Kaltim.aman.or.id Mubes IV Persekutuan Dayak Kung Kemul berlangsung meriah di Kampung Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim (18-20/07.2018).
Mubes dengan tema Menghidupkan Kembali Identitas , Ritus  Kearifan lokal Kung Kemul ini dibuka oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmini Bulang dan dimulai dengan prosesi Ritual Adat Dayak Modang dengan memakainkan atribut adat ke Wakil Buapti di depan Peteah (Balai Adat) Kampung Long Bentuq.
Prosesi Pembukaan Mubes Kung Kemul IV kemudian dilanjutkan dilapang Kampung Long Bentuq dengan Tarian Tembam Bataq Dayak Modang sebagai tarian pembuka. selain Tari Tembam Bataq, tarian lain yang tampil juga pada prosesi pembukaan mubes ini tari.
Pada hari pertama Mubes Kung Kemul ini juga dilakukan seminar dengan dua tema yang di Prensentaskan CSF Unmul Tentang Ritus Adat Sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Adat dan dari AMAN Kaltim terkait Undang – undang Masyarakat Adat.
Pada Mubes Kung Kemul IV ini juga dilakukan berbagai perlombaan untuk setiap kontingen yang hadir pada mubes ini, mulai dari lomba permainan dan olah raga tradisional seperti Begasing,Menyumpit, belogo hingga tarik tambang dengan menggunakan rotan. Juga dilakukan pertandingan olah raga populer seperti sepak bola dan bola voli.
Pentas seni juga ditampilkan setiap hari pada mubes kali ini, setiap kontingen mengirimkan wakil kesenian dari daerah dan komunitas adat mereka masing – masing yang tampil pada malam pentas seni di sepanjang mubes berlangsung. dari pentas seni ini terlihat keragaman corak budaya komunitas adat Pada Kung Kemul, Mulai dari Dayak Modang, Dayak Ga’ai, Dayak Wehea, Dayak Basap, Dayak Ahi dan dayak lainya yang masuk dalam Persekutuan Dayak Kung Kemul ini.
Selain pesta seni, budaya dan olah raga juga dilakukan kegiatan utama pada mubes ini yaitu menbahas ADART  Lembaga Kung Kemul dan juga pergantian pengurus hingga ketua dan wakil.
Pada Akhir Mubes ini, Terpilih Kembali Indra Bengeh untuk ketiga kalinya sebagai Ketua Lembaga Adat Besar Dayak Kung Kemul.
Kung Kemul sendiri bukan berasal dari kata yang merujuk kepada sebuah suku tertentu tapi merupakan tempat dimana suku – suku ini berasal. Kung Kemul merupakan sebuah gunung dimana terdapat komunitas adat di wilayah ini. Dimasa lalu terjadi sebuah pertempuran diwilayah ini. Berdasarkan bukti sejarah dan barang – barang situsnya memang membuktkan asal – muasal komunitas Dayak Rumpun Kung Kemul. Semua suku yang berasal dari wilayah Kung Kemul adalah Rumpun Kung Kemul.

Ritual Adat Pen Houh Meriahkan Mubes IV Kung Kemul

Ritual Adat Pen Houh di Kampung Long Bentuq


Kaltim.aman.or.id Salah satu rangkaian acara yang menarik pada Mubes Kung Kemul IV yang berlangsung di Kampung Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim yaitu simulasi Ritual Adat Pen Houh.
Ritual Adat Pen Houh merupakan ritual adat Dayak Modang dengan tujuan membersihkan kampung dari hal negatif khusunya terjadi kesalahan dalam perkawinan yang bisa mendatangkan kesialan bagi warga seperti perkawinan antar sepupu dan perkawinan antar tante dengan keponakan.
Simulasi ritual adat ini dilangsungkan ditepi Sungai Menwea yang berada di kampung Long Bentuq. saat ritual dimulai, sekelompok pemuda Long Bentuq mengisi pasir pada tempat mirip keranjang yang diletakan pada anyaman baambu yang mengapung dengan arahan dari pawang.
Setelah proses selesai kemudian orang yang dianggap melakukan kesalahan diikat pada bambu yang dianyam kemudian mereka mengelilingi balai sambil beberapa kali menenggelamkan orang yang ada pada bambu yang dianyam.
pada puncak rangkaian ritual dilakukan penombakan anak babi sebagai simbol penggati atau menebus kesalahan orang yang Dipen houh.
dimasa lalu Ritual Adat Pen Houh benar dilakukan pada warga yang melanggar aturan dalam perkawinan dan masuk dalam katagori inces seperti terjadi perkawinan antara keponakan dengan tantenya. ritual ini harus dilakukan. menurut kepercayaan dayak modang apabila tidak dilakukan akan menimbulkan kesialan bahkan bencana di kampung seperti gagal panen warga.
Warga yang kena pen hos benar – benar dirajam hingga mengeluarkan darah, kemudian diarak sepanjang kampung hanya dengan menggunakan kain jala sehingga terlihat setengah telanjang. Bahkan warga tersebut harus keluar dari kampung. ritual juga harus dilakukan di hilir sungai dengan tujuan menghindari kesialan. baru sekarang ada kelonggaran menggantikan mereka dengan anak babi.

Ritual Pengobatan Masyarakat Adat Dayak Wehea

Salah seorang Emta sedang melakukan Ritual Adat Njuq dengan media boneka. Selain boneka juga digunakan parang dan beberapa perlengkapan lainya.


Kaltim.aman.or.id Masyarakat Adat Dayak Wehea di Kampung Bea Nehas, Muara Wahau, Kutai Timur Kaltim mengenal ritual Adat untuk pengobatan Dan penyembuhan yang disebut Ritual Adat Njuq.
Ritual ini sering dilakukan oleh Komunitas Adat Dayak Wehea termasuk di Kampung Bea Nehas.
RitualAdat Njuq sudah dipraktekan oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea secara turun temurun. Ritual in sendiri biasanya dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus yaitu kemampuan berkomunikasi dengan roh – roh leluhur. Para pelaku ritual ini juga oleh Masyarakat Adat Dayak Wehea disebut Emta. Jumlah Emta dalam ritual bisa Dua hingga tujuh orang tergantung kemampuan orang yang akan melaksanakan ritual.
Proses ritual biasanya dilakukan Dua atau tiga Hari.
Saat memulai ritual, Emta terlebih dahulu memanggil roh – roh leluhur yang akan membantu dalam proses ritual ini. Setelah melakukan proses sawaian kemudian para Emta mulai mengelilingi balai kecil yang disebut Nak Blan sebanyak sekitar 7 kali dengan membawa perlengkapan ritual seperti boneka Dan parang.
Proses selanjutnya adalah pengobatan kepada pasien dengan menggunakan telur yang disentuhkan kepada pasien. Mulai Dari kepala hinggal ujung kaki. Kemudian telur dipecah setelah telur bercampur dengan panyakit – penyakit pasien.
Setelah ritual adat selesai, semua perlengkapan harus dibongkar Dan pasien harus bepantang sesuai dengan yang disaimpaikan oleh Emta seperti tidak boleh membuka rumah Dan menerima tamu selama sekitar tiga hari dengan memberi tanda daun pisang yang digantung didepan rumah.
Pada hari ketiga berpantang, para Emta kembali melakukan ritual penutupan yang mengakhiri proses berpantang yang juga merupakan penutupan proses Ritual Adat Njuq
Selama proses Ritual Adat Njuq tidak boleh ada kucing dan dilarang menyentuh langsung Emta. Ini merupakan pantangan untuk Emta.


Oleh : Beang Lie ( Masyarakat Adat Dayak Wehea)

Kearifan Lokal Berladang Dayak Bahau Busang Umaq Wak

Lalii Ataaq Nilai Luhur Kebersamaan Dalam Komunitas Adat

Avun Ingan, Kepala Adat Long Bagun Ulu (kiri) dan Wan Kueng, Wakil Kepala Adat (Kanan)

Kaltim.aman.or.id Salah satu kearifan lokal yang mencerminakan kebersamaan dalam Komunitas Adat Dayak Bahau Busang Umaq Wak di Kampung Long Bagun Ulu dikenal dengan nama Lalii Ataaq. Ritual adat ini merupakan acara adat dalam menyambut padi baru.
Para perwakilan dari lembaga adat mendatangi ladang – ladang warga untuk berbagi sedikit dari hasil panen mereka untuk melakukan ritual adat ini. padi yang dipilih adalah padi muda yang kemudian akam di oleh dengan cara di sangrai untung menghasilkan emping.
Padi dari semua warga yang sedang panen dikumpulkan dan dibawa ke kampung, kemudian bersama – sama seluruh warga membersihkan padi yang masih bertabgkai tersebut secara bersama – sama.
Dalam memasak padi untuk mendapatkan emping yang bagus harus dipilih orang orang yang benar – benar ahli dan sudah sudah terbiasa dalam memasak padi baru ini.

Menurut Avun Ingan, Kepala Adat Long Bagun Ulu dalam kepercayaan Komunitas Adat Dayak Bahau Busang Umaq Wak Prosesi Lalii Ataq harus dilakukan oleh kepala adat karena dalam prosesi akan melibatkan roh – roh leluhur yang mendiami lamin adat pada setiap tiang yang ada pada lamin. nama – nama roh – roh leluhur ini tidak boleh sembarang disebutkan dimana dimana mereka adalah penjaga kampung terhadap ancaman – ancaman dari luar dan hanya kepala adat yang mengetahui nama – nama roh yang menjaga lamin.
Dalam prosesi ritual kepala adat akan “memberi makan roh – roh penjaga kampung ini sebagai syarat upacara. kalau tidak dilakukan ini akan menjadi utang yang akan ditagih dan menimbutkan kemarahan roh – roh penjaga kampung.
Setelah upacara yang dipimpin oleh kepala adat selesai, seluruh warga bersama – sama menikmati emping yang telah dibuat sebagai hasil panen dari semua warga kampung.

Minggu, 14 Agustus 2016

ULAP DOYO KAIN TENUN KHAS DAYAK BENUAQ OHOKNG


Tim Biro Ekosob AMAN Kaltim bersama Warga Mancong  saat melakukan penyemaian Tanaman Doyo


Kain tenun Ulap Doyo sudah terkenal sejak dahulu kala pada masa kerajan Kutai, kain tenun ini diperkirakan sebelum abad ke-17. Pada masa itu masih berlaku perbedaan sosial. Dengan melihat motif Ulap Doyo yang digunakan pada masa itu bisa dijadikan sebagai ciri atau identitas seseorang, contohnya motif Jaunt Nguku digunakan oleh kaum Mantiq (Bangsawan/Raja) dan motif Waniq Ngelukng digunakan oleh golongan Marantikaq (orang Biasa).

Ulap Doyo dipakai saat Sari Gantar
untuk menyambut tamu
Kain tenun ikat Ulap Doyo merupakan salah satu bentuk ekspresi dari ilmu pengetahuan dan keyakinan masyarakat adat dayak Benuaq Ohokng. Kain tenun ini bisa digunakan laki-laki maupun perempuan pada saat upacara adat, tari-tarian, rijok-dongkoi dan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya kain tenun yang digunakan sehari-hari adalah warna hitam sedangkan kain tenun yang berwarna warni dan bermotif akan digunakan saat ada ritual-ritual adat. Kain tenun yang bermotif serta memiliki hiasan khusus memiliki nilai-nilai adat dan fungsional yang memiliki nilai religi. Seperti motif Timang ( Harimau) melambangkan keperkasaan seorang pria, motif Naga melambangkan kecantikan seorang wanita, motif Limar (perahu) melambangkan kerjasama dan motif Tukar Torai (tangga Rebah) maknanya melindungi usaha dan kerjasama masyarakat masih banyak motif yang lainnya serta memiliki makna yang berbeda-beda. Dalam penggunaan warna juga memiliki makna tersendiri dan memiliki simbolik yang mengandung nilai budaya, seperti warna hitam pada kain panjang adalah si pemakai memiliki kemampuan dalam melakukan tolak bala dan ilmu hitam (ilmu yang jahat).

Kain tenun ikat ini digunakan dalam berbagai upacara adat sperti upacara kewangkey (ritual kematian), upacara pelulukng peruku (pernikahan adat), tarian gantar, upacara panen hasil bumu, ritual pengobatan, kain tenun ulap Doyo ini juga biasanya digunakan sebagai mahar untuk melamar yang disebut Uru Oncangkng.

Pakaian Tradisional Pria
Dayak Benuaq Ohokng
Terbentuknya kelompok pengerajin Kain Tenun Ikat Ulap Doyo di Kampung Macong sebenarnya sudah lama sejak masih dalam wilayah kabupaten Kuati Kartanegra, sekiatar tahun 1990 kelompok pengerajin dibentuk melalui dinas parawisata, binaan diberikan pada kelompok ini dan membuahkan hasil yang luar biasa berkembang cukup pesat dan pemasaran dilakukan di masyarakat dan pemerintah, kelompok ini juga memasarkan produk mereka dengan mengikuti pameran ditingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan sampai ke Jakarta, bukan hanya kain tenun ikat yang kelompok ini miliki tetapi ada kesenian daerah yaitu tarian gantar dan rijok. Namun seiring berkebangnya pembangunan maka terjadi pemekaran daerah dan kampung Mancong masuk dalam kabupaten baru yaitu kabupaten Kutai Barat, dengan seiringnya waktu kelompok binaan pemerintahan ini terabaikan dan menjadi mati. Masyarakat adat komunitas Ohokng ini masih tetap terus melakukan kegiatan menenun kain tenun ikat yang berbahan dasar dari benang doyo dan pewarna yang digunakan berasal dari alam dan hutan wilayah adat mereka.

Walaupun kelompok sudah tidak ada lagi namun para pengerajin masih tetap melakukan praktek menenun dan memproduksi kain tenun ikat ulap doyo yang biasanya digunakan oleh masyarakat adat itu sendiri untuk melakukan ritual-ritual, dan masih ada pesanan dari luar kampung Mancong. Dan skala produksinya masih terbatas serta harga masih ditentukan oleh pembeli.

Pada tanggal 20 September 2013, para perempuan adat dan ada perwakilan masyarakat juga berkumpul bermusyawarah bersama untuk membentuk kembali kelompok yang telah mati, kelompok ini sebagai wadah bersama dari hasil usaha yang mereka buat dan untuk keberlanjutan budaya dan kearifan lokal masyarakat adat Ohokng. Perempuan adat bermufakat membentuk kelompok baru yang di beri nama “Sempeket Uat Bayu” artinya bersama bangkit kembali. Para perempuan adat ini bermufakat untuk mempertahankan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dari leluhur. Terbentuknya kelompok didampingi oleh Perempuan AMAN dan AMAN Kaltim.

Jenis Tanaman Doyo

Tanaman Doyo 
  Tumbuhan Doyo dengan nama latin Curculigo Latifolia, serat tumbuhan tesebut diambil kemudian dipintal dan ditenun menjadi kain tenun ulap Doyo yang indah dan memiliki nilai budaya. Tumbuhan Doyo ini banyak tumbuh di wilayah Kalimantan Timur serta memiliki beberapa varietas dan ciri-ciri yang berbeda. Ada tumbuhan Doyo yang tidak dapa digunakan sebagai bahan benang kain tenun ikat karena tidak memuliki serat yang bagus. Adapun varietas tumbuhan Doyo yang diambil seratnya untuk dijadikan sebagai bahan kain tenun ikat Ulap Doyo, yaitu :

1.        Doyo Temayo
Varietas yang paling baik seratnya sebagai bahan kain tenun ikat (No.1), memiliki ciri-ciri bentuk daun agak kecil, melengkung warna hijau muda cerah, serat daunnya tidak telalu keras varietasnya terdapar disekitar wilayah kampung Mancong dan kampung Perigiq,

2.        Doyo Pentih
Seratnya hapir sama dengan serat Doyo Temayo, yang membedakannya adalah warna daun yang hijau kekuningan dan lebih tahan terhadap sinar matahari.

3.        Doyo Biakng
Ukuran daun dan tangkai daun Doto jenis ini lebih panjan varietas ini bisa mencapai 150 cm dan lebar 25 cm, panjang tangkai daunnya bisa mencapai 113 cm.

4.        Doyo Tulakng
Ukuran daun Doyo ini lebih kecil dari daun Doyo Pentih dan Doyo Biakng, bentuk daunnya agak tegak dan lentur karena tulangnya lebih keras, saat pengerikan serat daunnya akan pecah-pecah.

Pewarna alami tradisional

Pada awalnya pewarna alami dari hutan dan kebun-kebun masyarakat yang digunakan sebagai bahan pewarna kain tenun, namun seiring berkembangnya pembangunan banyak hutan dan lahan perkebunan masyarakat yang dialih fungsikan menjadi lahan pertambangan dan perkebunan kelapa sawit sehingga bhan baku dari tumbuhan Doyo dan pewarna menjadi susah didapatkan disekitaran kampung, sehingga pengerajin menggunakan pewarna tekstil.

Baju khas Perempuan Dayak Benuaq Ohokng 
Warna serat tumbuhan Doyo adalah putih dan krem. Pewarnaan dilakukan untuk memeprindah dan membuat variasi motif semakin indah. Ada beberapa jenis bahan pewarna dan warna yang biasanya digunakan oleh pengeraji antara lain :

1.        Warna hitam
Diperoleh dari asap pembakaran Damar yang dicampur dengan cairan pekat. Dan juga menggunakan daun pohon Kebuau yang sudah Tua. Serat daun Kebuau direbus bersama dengan serat daun Doyo hingga menjadi hitam warnanya.

2.        Warna kuning
Warna ini menggunakan tumbuhan kunyit (Curcuma Longa), kunyit diparut atau ditumbuk sampai halus kemudian tambahkan air sedikit diperas seperti santan hingga mengeluarkan warna kuning pekat, selanjutnya direbus kemudain benag direndam selama beberap jam hingga terserap warna kuning dari kunyit.

3.        Warna merah
ü  Batu Lado, batu yang biasanya terdapat di sungai Lawa dan Bentian Besar dan daerah Tanjung Isuy. Merupakan bahan untuk membuat warna merah pada serat Doyo. Caranya batu dibuat menjadi bubuk campur dengan air kemudian dioleskan pada benang Doyo.
ü  Biji buah Geligemp (Annatto Bixa Orellana), buah ini yang agak tua. Caranya siapkan beberapa biji buah Geligemp yang telah diremas bijinya lalu dicampur dengan air sedikit saja dan menghasilkan warna merah kental, kemudian cairan ini dioleskan pada benang Doyo.
ü  Kulit batang poho Uar, kulit batang pohon Uar diambil kemudian ditumbuk sampai menngeluarkan getah kemudian kulit kayu ini direndam satu malam sampai air rendaman berwarna merah tua. Kemudian benang Doyo direndam dalam air tersebut selama3-4 jam sampai menyerap dan warna benang menjadi merah.

4.        Warna hijau
Warna yang diperoleh dari Putri malu (Aminosa Pudica), daun putimalu ditumbuk hingga menjadi halus kemudian direbus dan mengeluarkan warna hujau kental, benang direbus sebentar bersama cairan hingga terserap dan warna benang menjadi hijau.

5.        Warna coklat
Warna ini diperoleh dari akar kayu Oter, akar kayu oter diamabil kemudian ditimbuk halus hingga mengeluarkan getah lalu benang direndam dalam getah kayu oter hingga menyerap dan warna menjadi coklat.

Hampir semua bahan pewarna diatas sudah sulit didapat dikarenakan lahan yang telah dialihfungsikan. Dan sekarang kelompok penegerajin berusaha untuk membudidaya tumbuhan Doyo dan pewarna alam yang mereka gunakan secara turun temurun.

Peralatan

Adapun peralatan yang digunakan dalam melakukan proses pembuatan kain tenun ikat ulap Doyo adalah peratan yang masih tradisional, adapun peratan yang diguanakan antara lain:
1)        Pengampent atau Band merupakan ikat pinggang sebagai penahan pinggang.
2)        Apit atau penggulung kaint, alat yang digunakan untuk menggulung pangkal kain tenun.
3)        Bliraq atau penumbuk, atau biasanya disebut parang-parang atau penumbuk saat menenun.
4)        Buyutn disebut sisir, sebagai penyusun benang.
5)        Telokng, terbuat dari bambu sebagai pembuka benang.
6)        Perasai Merua, terbuat dari bambu tipis selebar 2 cm sebagai pemisah benang.
7)        Gigiq, sebagai pengatur benang supaya tidak kusut.
8)        Duat, terbuat dari bambu sebagai pengait benang lungsi.
9)        Daag, alat yang digunakan untuk memasang rangkaian benang tenun yang akan ditenun.
10)    Tukar, sebagai pijakan kaki yang berfungsi untuk pengencang benang
11)    Tukar tekuet atau sekoci dari kayu, sebagai tempat benang isi yang akan ditenun pada benang lungsi


Proses Pengolahan Kain Doyo

Dua tahap yang harus dilalui pengerajin hingga bisa menghasilkan kain tenun ikat Ulap Doyo.

1.        Pengolahan bahan baku
Pertama yang harus dilakukan oleh pengerajin adalah pengambilan bahan baku atau daun Doyo dari hutan, dan jangan samapai kering terpapar sianar matahari karena akan rusak. Pengambilan daun doyo 60 -100 lembar, daun yang dipiluh adalah adau yang setengah tua tidak boleh terlalu muda maupun terlalu tua, dengan ukuran sekitar 1- 1,5 meter. Dari setiap pohon doyo hanya diambil 1-3 lembar daun dalam satu kali pengambilan dan juga menjaga supaya tumbuhan ini tidak mati. Dan setiap rumpun dipilih tangkai no 2 dan 5 sebagai bahan tenun. Tangkai no 4 sebagai pengikat serat pada saat pencelupan kedalam bahan pewarna.

Proses pemetikan Tanaman Doyo untuk diolah
Daun yang telah diambil langsung dibawa untuk direndam dan diambil seratnya, apabila kering maka daun tersebut tidak bisa diambil seratnya. Dauin Doyo direndam dalam air hingga daging daun hancur atau lembek, kemudian serat disisir atau dikerik dengan pisau terbuat dari bambu panjangnya 20 cm dan lebar 40 cm tergantung sipemakai. Proses ini diusahakan pada air sungai yang mengalir supaya serat benang yang dihasilkan tidak kusut.

Selama proses ini dilakuakn serat Doyo harus tetap berada dalam air, karena apabila warna tersbut terkena udara maka warnanya akan berubah menjadi merah atau coklat tua. Serat yang telah selesai dikerik tidak langsung dimasukan kedalam wadah, namun dikaitkan pada batang kayu atau bambu yang telah ditancapkan pada dasar sungai.
Agar sisa-sisa pada serat terbeut larut. Proses pemnegrikan biasanya dilakukan kurang lebih satu jam. Setelah itu dilakuakn proses penjemuran serat benang digantung dengan terjuntai kebawah supaya tidak kusut. Proses ini yang perlu diperhatikan juga benang harus benar-benar kering. Dalam pengerikan daun doyo juga tergantung dengan air yang digunakan apabila bersih (bening) maka hasilnya akan menjadi putih sedangkan airnya kecoklatan maka warna yang dihasilkan akan menjadi krem.

2.        Proses penenunan

Buntaran/gulungan benang Doyo yang siap ditenun menjadi
Ulap atau Kain Doyo
Sebelum proses penenunan dilakuakn pengerajin harus melalui tahap-tahap antara lain:
a)        Moyent Doyo (memintal), serat doyo dibelah menjadi 2-3 mm, dengan menggunakan pisau atau peniki, setelah di kerik pelan-pelan kemudian dipelintir hingga menjadi benang,
b)        Nukui (Menyambung benang), benang-benang doyo yang telah dipintal disambung satu persatu, dengan cara disimpul rapat dingga panjang 100 - 200 meter.
c)        Munter Lawei (menggulung benang), benag yang telah di sambung kemudian digulung seperti bola sebesar kepakan tangan.
d)    Ngorakng entaq (menyusun corak), proses penyusunan corak, alat ini digunakan untuk mengencangkan benang-benang hingga menjadi rapi. Penyusunan memerlukan waktu yang lama 1-2 minggu untuk merapikan benang.
e)        Telegatn (mengikat), ini alat yang digunakan untuk mengikat dan melipat benang yang tidak kencang menjadi dua.
f)         Nelep (pewarnaan), ini proses pewarnaan pada benang dengan merendam dalam pewarna.


Ragam hias kain tenun ulap Doyo.

Ragam hias pada kain tenun Doyo pada umumnya hampir sama dengan ragam hias yang diterapkan pada kain tenun di daerah lain di Nusantara. Motif - motif yang paling menonjol pada tenun Doyo adalah motif dengan gaya swastika, misalnya pada motif timang atau harimau dan motif - motif flora dan fauna. Kini, tenun doyo memiliki puluhan jenis ragam hias atau motif yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Ragam hias atau motif-motif tersebut adalah sebagai berikut:

·         Motif naga, yaitu melambangkan keayuan seorang wanita 
·         Motif Limar atau perahu, yaitu lambang kerja sama dalam usaha. Perahu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Benuaq merupakan alat transportasi yang di sungai dan di danau 
·         Motif Kinas atau ikan, yaitu bermakna sebagai suatu pertanda atau peringatan berupa nasehat dari leluhur kepada generasi penerusnya. 
·         Motif Timang atau harimau, yaitu melambangkan keperkasaan seorang pria. 
·         Motif Tukar Toray atau tangga rebah atau terbalik, yaitu bermakna melindungi usaha dan kerjasama dalam masyarakat. 
·         Motif Tipak Mening Knowala atau gigi graham, yaitu melambangkan peran orangtua dalam suatu kerjasama atau bermasyarakat. 
·         Motif Timang Nuat atau harimau yang tunduk, yaitu melambangkan suatu harapan agar keperkasaan atau keberanian seseorang tidak boleh lemah atau pudar. 
·         Motif Timang Sesat Sungkar atau tangga harimau, yaitu melambangkan agar kerjasama dan usaha masyarakat harus senantiasa tegar dan berani untuk mencapai cita-cita.
·         Motif Tengkulutn Tongau atau patung, yaitu sebagai lambang kepercayaan masyarakat setempat tentang kehidupan di alam lain setelah manusia mengalami kematian. Oleh karena itu, patung itu memegang peranan penting dalam upacara kwangkai 
·         Motif Brabakng atau senduk yang bersusun-susun, yaitu melambangkan kemewahan dan kesenangan seseorang. 
·         Motif Upak Tolang atau kulit bambu, yaitu melambangkan kesuburan 
·     Motif Wahi Nunuk atau akar pohon beringin, yaitu melambangkan keberhasilan suatu pekerjaan yang tergantung pada kerjasama di dalam masyarakat. 
·   s Motif Tempaku atau pinggiran tenun yang berbentuk tumpal, yaitu melambangkan keberhasilan yang sempurna suatu usaha.
·         Motif Tekulutn atau katak, yaitu melambangkan akhir dari suatu pekerjaan.
·         Motif Tekurent atau titik-titik hujan, yaitu melambangkan kesuburan lingkungan si perajin tenun. 
·         Motif Tapus Tongan atau kembang anggrek, yaitu melambangkan kesuburan generasi muda untuk mencapai cita-cita. 
·         Motif Rakang atau kembang penggerek kelapa, yaitu melambangkan suatu masalah kecil yang lama-kelamaan akan membawa petaka besar.
·         Motif Kelelemakng atau kupu-kupu, yaitu melambangkan harapan dan kesuburan.

·         Motif Basukng atau bambu muda, melambangkan kekuatan dari dalam dan secara abstrak menggambarkan manusia itu sendiri. 

Senin, 08 September 2014

Seni berijok


 Seni Olah Vocal Ala Dayak Benuaq



Amankaltim.blogspot.com Pada Upacara Adat Gugu Tautn di Muara Tae, kecamatan Jempang, Kutai Barat - Kaltim, ada satu hiburan yang sanagt meanarik minat pengunjung yang hadir yaitu seni olah vocal yang di kenal dengan Rijok atau Berijok. 


Berijok merupakan seni menyanyi dengan menggunakan Bahasa Dayak Benuaq yang sekarang sudah diirngi dengan iringan musik dangdut tapi tetap masih dengan cita rasa khas dayak Benuaq dan seni jenis ini sangat populer di Kutai Barat, hampir setiap acara terutama acara pernikahan dan juga Guguq tahun selalu di meriahkan dengan Berijok.

Menurut Ibu Hamzah, dahulu seni Berijok dinyanyikan tanpa iringan musik, hanya berupa syair - syair yang dinyanyikan secara bersahutan oleh laki- laki dan perempuan dengan cengkok khas dayak benuaq. Berijok versi original ini masih bisa di jumpai dalam lomba berijok yang sering dilakukan di wilayah Kutai Barat.

Senin, 14 Juli 2014

REHABILITASI HUTAN ADAT MUARA TAE


Penanaman Ulin oleh Masyarakat Adat Muara Tae




Masyarakat Adat Muara Tae melakukan penanaman ulin di sekitar Hutan Adat Utaq Melinau yang terletak di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, kalimantan Timur pada kamis, 3 juli 2014

Penananaman ulin ini merupakan salah satu tujuan dari Upacara Adat Guguq Tautn dan juga merupakan program AMAN dalam merehabilitasi Hutan Adat Muara Tae. Saat ini Hutan Adat Utaq Melinau memang perlu mendapatkan perhatian khusus menyangkut eksistensi perusahanaan-perusahaan sawit yang telah beroperasi di sekitar hutan.

Hutan Adat Utaq Melinau sendiri telah terkepung oleh lahan sawit yang di miliki oleh PT. Borneo Surya Mining Jaya. Sehingga penanaman ulin ini diharapkan bisa memudahkan kontrol terhadap kondisi hutan serta manpu mencegah terjadinya proses penggusuran paksa yang sering terjadi di Muara Tae.

Hutan Adat Utaq Melinau sangat penting peranya bagi Masyarakat Adat Muara Tae. Disini terdapat berbagai macam tanaman yang berperan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Adat Muara Tae. Seperti beberapa kayu adat yang dipakai dalam setiap prosesi upacara adat, tanaman obat dan lain- lain. Kayu ulin sendiri merupakan kayu adat. Jenis kayu ini wajib ada saat prosesi Upacara Adat Belian Sentiu.

Jumat, 20 Juni 2014

Rangkaian Upacara Adat Guguq tautn Muara Tae

Malam Puncak Upacara Adat Beliatn Longan



Amankaltim.blogspot.com. Upacara Adat Beliatn Longan telah selesai dilaksanakan yang puncak acaranya dilaksanakan pada rabu malam 18 juni 2014 di kediaman Petrus Asuy yang merupakan salah seorang tokoh adat Muara. Beliatn Longan merupakan salah satu dari rangkaian dari prosesi Upacara Adat Guguq Tautn yang dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Muara Tae.


Upacara ini secara spiritual bermaksud memohon kepada semua roh leluhur, roh pelindung, dan penguasa alam semesta agar bisa hadir untuk memulihkan kehidupan baik lingkungan hutan, air, udara maupun diri para pekaksana upacara ini secara lahir dan bathin menyangkut perjuangan Masyarakat Adat Muara Tae dalam menjaga wilayah adatnya dari tangan-tangan perusak yang telah merusak dan memporak-porandakan alam dan seluruh lingkungan Wilayah Adat Muara Tae.


Upacara Beliatn longan ini tidak hanya dihadiri oleh warga Muara Tae Tetapi juga oleh warga dari kampung sekitar seperti Kampung Lempunah, Kampung Mancong, Kampung Belusuh, Kampung Kaliq dan Kampung Rikokng, karena warga sangat percaya akan upacara adat ini yang bisa menyembuhkan penyakit dan mengusir semua hal negatif. Dampak penyembuhan dan pemulihan diri pada Upacara Beliatn ini Sering kali bisa dirasakan secara langsung pada saat itu juga seperti yang dirasakan oleh Sambong, salah seorang warga peserta Beliatn Langon yang menderita sakit keras dan berhasil di sembuhkan.

Upacara ini berlangsung semalam suntuk dan berakhir pada pukul 03.30 dini hari. Semua jenis tarian dan alunan musik khusus ritual ditampilkan dengan menghadirkan oleh sepuluh orang pemeliatn (pawang) sentiu, dua pemeliatn Bawe(pawang perempuan), dan dua orang pemelian (pawang) timek.

Sebelum Upacara Adat Beliatn Longan, pada minggu 15 juni 2014 dilaksanakan Upacara Benae yaitu berjiarah ke situs reruntuhan Lamin Kelumpakng yang berjarak sekitar lima kilometer kearah timur Muara Tae. Situs Reruntuhan Lamin Kelumpakng merupakan tempat sakral dan keramat dimana di tempat ini dipercaya, roh pelindung yang melindungi Wilayah Adat Muara Tae Secara Turun-Temurun bersemayam. Tujuan upacara ini adalah meminta kekuatan kepada roh pelindung dalam perjuangan mempertahankan Wilayah Adat Muara Tae dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Upacara ini berlangsung selama satu hari dengan diakhiri pemotongan lima ekor babi dan lima ekor ayam.


Pada puncak Upacara Adat Beliatn Longan ini masing -masing  pemelian melakukan ritualnya secara bergantian seperti pesarakng yang dilakukan pawang beliatn sentiu, ngejarukng  oleh pawang beliatn timek dan ritual Pekapaak  Tiak oleh pawang beliatn bawe.


Ritual Pekapaak Tiak dilakukan pemberkatan pada seorang anak yang mulai  menginjak tanah dan  mandi disungai. Upacara ini bertujuan mempersatukan anak manusia dengan alam yang merupakan tempat hidupnya dan didoakan untuk meminta kepada  Juata Tonoi sebagai roh penjaga alam agar memberikan kekutan dalam hidup, serta dimandikan  dengan air Sungai Nayan sebagai lambang agar anak tersebut terhindar dari segala penyakit dan kemalangan. Upacara ini hanya bisa dilakukan saat adanya Beliatn Longan dan wajib dilakukan oleh setiap anak Suku Dayak Benuaq.


Upacara Adat Beliatn Longan diakhiri dengan pemotongan empat belas ekor babi dan dua puluh dua ekor ayam yang dilaksanakan pada keesokan hari dalam Upacara Tangai. Tangai mengandung makna ucapan terima kasih kepada yang kuasa, roh leluhur dan roh pelindung atas berkah yang diberikan. Setelah Upacara Tangai ini dilanjutkan bepantang selama tiga hari.



Setelah upacara Beliatn Longan, rangkaian Prosesesi Upacara Adat Guguq Tautn selanjutnya adalah Nempuk Balai yang secara spiritual bertujuan untuk mengantar balai-balai atau bangunan ritual kelangit tempat para roh pelindung berada.





Narasumber dan foto : Masrani